Al-Irsyad Perkuat Peran Sosial

0
3

JAKARTA — Ketua Umum Al-Irsyad Al-Islamiyah, Abdullah Djaidi, menyatakan, organisasi yang dipimpinnya berupaya terus memperkuat peran sosialnya di tengah masyarakat. Penguatan peran sosial, kata dia, menjadi hal penting mengingat kondisi riil yang terjadi di masyarakat saat ini.

“Kemiskinan masih melanda dan bencana alam juga kerap terjadi di sejumlah daerah,” kata Abdullah saat memberikan sambutan dalam acara halalbihalal dan silaturahim Idul Fitri keluarga besar Al-Irsyad Al-Islamiyyah di Jakarta, Kamis (8/10) malam. Ia mengatakan, warga dhuafa dan korban gempa kini sangat membutuhkan perhatian dari seluruh komponen bangsa.

Sebagai wujud nyata kepedulian, ungkap Abdullah, beberapa waktu lalu pihaknya membentuk badan amil zakat, infak, dan sedekah (Bazis). Badan ini menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kepada mereka yang berhak. ”Dana tersebut bisa disalurkan untuk kepentingan sosial amaliyah, juga dalam rangka dakwah dan pendidikan agama,” katanya.

Abdullah juga menyatakan, Al-Irsyad Al-Islamiyyah telah mendirikan posko bantuan untuk korban gempa Sumatra Barat. Menurut dia, bantuan yang diberikan tak hanya dalam bentuk fisik berupa keperluan sehari-hari, melainkan juga dukungan moral bagi para korban. ”Kami berharap para ulama dan dai berperan mengembalikan semangat mereka,” katanya.

Di sisi lain, Abdullah mengatakan pula bahwa Al-Irsyad Al-Islamiyyah juga akan terus meningkatkan perannya di bidang dakwah dan pendidikan. Selama ini, Al Irsyad memang telah berperan aktif dalam pendidikan dan dakwah. Ia mengatakan, Al-Irsyad telah memiliki sarana sekolah, masjid, rumah sakit, dan pondok pesantren.

Sarana-sarana tersebut, jelas Abdullah, tersebar di 23 wilayah dan 132 cabang Al-Irsyad di seluruh Indonesia. Dalam sambutannya di acara tersebut, Menteri Agama (Menag), Maftuh Basyuni, menyambut baik peran dan kontribusi Al-Irsyad kepada masyarakat, khususnya dalam pengembangan program pendidikan.

Menurut Maftuh, program yang dikembangkan Al Irsyad sejalan dengan program dan fokus perhatian Departemen Agama (Depag) sejak 2005. Ia mengatakan, saat ini lembaga pendidikan di bawah Depag, 92 persennya dikelola swasta.

Namun, ia mengakui banyak kalangan yang memandang sebelah mata. Depag terus berupaya mengubah kondisi ini. * yus

Sumber: Harian Republika